Ikatan Keluarga Maluku di Mimika Mengutuk Keras Peristiwa di Sorong dan Kariu

Anggota Ikemal Maluku di Mimika saat menyamapikan konferensi pers terkait persoalan di Ambon dan Sorong

MIMIKA, BM

Ikatakan Keluarga Maluku (Ikemal) Mimika mengadakan pertemuan menyikapi persoalan horisontal bernuansa SARA yang terjadi di kota Sorong yang juga diduga meluas ke desa Kariu Maluku Tengah agar tidak sampai meluas di Mimika.

Rapat yang dipimpin oleh Ketua Ikemal Piet Rafra dihadiri ketua-ketua suku dari berbagai wilayah Maluku yang berlangsung di Hotel Paparisa, Kamis (27/1).

Dalam rapat tersebut, Ketua Ikemal Piet Rafra mengajak masyarakatnya yang berada di Mimika agar tidak terprovokasi.

Piet Rafra mengatakan, konflik antara orang Maluku sangat memalukan. Dan menghimbau  agar kejadian tersebut tidak merembes ke Mimika. Karena sejak pendahulu hadir di Mimika datang dengan penuh cinta kasih turut membuka daerah ini dan wajib dijunjung sebagai perantau di bumi Amungsa.

"Kita semua di daerah perantauan dimana kita harus menghormati yang punya daerah ini khususnya Kamoro dan Amungme pemilik tanah ini.  Sekalipun jasa-jasa orangtua-orangtua turut membuka daerah ini. Tetapi mereka membuka dengan penuh kasih sayang, berpendidikan dan beragama," tutur Piet.

Ia mengingatkan semua warga Maluku tentang nilai-nilai ini. Pasalnya di Mimika ada juga warga kampung Kariu (kampung kristen) dan Kampung Pelau (kampung muslim).

Ia meminta baik pemerintah yang ada di kota Sorong maupun Maluku termasuk pemerintah pusat agar segera dapat menyelesaikan persoalan ini.

"Pemerintah pusat dan Maluku dengan segala kemampuan diharapkan dapat menyelesaikan persoalan ini agar tidak berimbas pada kerusuhan SARA. Jangan sampai kita malu untuk berulang kali sebagaiman peristiwa yang terjadi pada tahun 1999 sebelumnya,”harapnya.

Sementara itu, Thom Tatiratu, Ketua Maluku Tenggara ( IKBMT) mengutuk keras peristiwa yang terjadi di dua tempat ini. Ini menjadi tanggungjawab bersama dalam hal mengangamankan kehidupan orang Maluku yang ada di tanah Amungsa ini.

"Sehingga kebersamaan yang sudah kita bangun dengan begitu luar biasa dan begitu lama tidak terjadi konflik antar suku. Masyarakat kami selalu mengupayakan untuk memperkecilkan langkah untuk mengantisipasi hal ini," Kata Thom.

Ia mengatakan bahwa di tempat perantauan ini semua datang mencari hidup dan bekerja sehingga perlu menjaga toleransi dan kekeluargaan secara bersama.

Persoalan ini dikecamnya dan ia berharap pemerintah dapat menyelesaikannya. Ia berharap gubernur dan wakil gubernur tidak biarkan masyarakat menderita karena persoalan ini.

"Kalau tidak cepat diatur akan membangun presepsi yang buruk. Saya harap supaya siapa saja yang punya kompetensi sebagai tokoh-tokoh Maluku tengah yang ada di Kabupaten Mimika ini tolong hindari dan jangan kita kebangkan persoalan yang terjadi diatas tanah ini. Mari bergandengan tangan sesuai dengan semboyan ”potong di kuku jangan sampai menjadi darah. Potong di kuku rasa didaging. Tolong selesaikan persoalan ini dengan cara mereka, jangan bikin kita rusak,”harapnya.

Selanjutnya, Anton Welerubun Ketua Kerukunan Maluku Tenggara, juga mengutuk peristiwa ini. Menurutnya kejadian tersebut merupakan tindakan-tindakan yang sungguh tidak berprikemanusiaan.

"Apalagi kita semua adalah anak-anak Maluku. Untuk apa ada sumpah-sumpa pela gandong kalau akhirnya terjadi seperti ini," tambah Anton.

Akibat perbuatan mereka, kata Anton, ada beberapa paguyuban juga mengalami masalah sehingga ia pun menyampaikan permohonan maaf.

"Hidup dengan masyarakat yang heterogen, kita harus satu konsep bahwa merupakan negara Bhineka Tunggal Ika. Sehingga perlu saling menghargai keyakinan agama masing-masing. Kerukunan masing-masing diharapkan juga untuk menjaga kamtibmas di Mimika," harapnya.

Anton meminta, untuk semua warga Maluku menghargai dan menghormati basudara yang memiliki petuanan atas negeri ini, termasuk suku-suku lainnya dengan hidup bersama dan berdampingan tanpa haus saling menyakiti.

Ia mengatakan, masala yang terjadi semuanya bisa diselesaikan tinggal bagaimana mencari solusi yang terbaik.

Hal yang sama juga disampaikan kerukunan Maluku lainnya seperti Yanto Kepulauan Aru. Ia juga mengutuk keras peristiwa yang terjadi di Malulu dan Sorong.

Hal senada juga di sampaikan Ismail  dari kerukunan Seram dan Eli Ratuanik dari Tanimbar yang juga mengutuk peristiwa tersebut.

"Saya mengutus keras kejadian yang terjadi di Maluku. Kepada Kapolda dan Gubernur Maluku dan Bupati yang di sana supaya oknum-oknum itu ditangkap karena itu kesengeajaan yang dibuat,”kata Ismail.

Usai menyampaikan pernyataan dari masing-masing kepala suku, semuanya dituangkan dalam satu pernyataan sikap bersama yang terdiri dari 3 point penting untuk mengatasi melebarnya imbas konflik yang terjadi di Sorong dan Desa Kariu Maluku.

Pertama, menghimbau seluruh masyarakat Maluku di Timika untuk tidak saling memprovokasi keadaan yang bisa menimbulkan masalah baru.

Kedua, masing-masing kepala suku menghimbau dan mengendalikan masyarakatnya supaya tidak membuat keadaan konflik yang terjadi di Sorong dan Desa Kariu sebagai konflik Kesukuan dan Agama.

Dan ketiga, menegaskan kepada Aparat Keamanan untuk langsung menindak tegas oknum-oknum yang menebarkan isu-isu juga tindakan anarki yang membuat pertikaian di Timika terhadap konflik yang terjadi di Sorong dan Desa Kariu Maluku. (Shanty)

Top