Kesehatan

12 Tahun Yayasan Cinta Bella Rindu Miliki Rumah Fisioterapi Untuk Anak Celebral Palsy : Ini Curhatannya

Anak-anak Yayasan Cinta Bella

MIMIKA, BM

Yayasan Cinta Bella merupakan rumah singgah untuk anak-anak penderita lumpuh otak atau Celebral Palsy.

12 tahun lamanya, yayasan yang didirikan oleh Elisabeth Carolina Samori ini memperjuangkan nasib anak-anak penderita Celebral Palsy agar mereka mendapatkan kasih sayang dan bantuan.

Bantuan makanan, minuman, nutrisi maupun lainnya tentu sangat dibutuhkan untuk perkembangan mereka, namun bantuan yang paling dibutuhkan sebenarnya adalah terapi.

Kepada BeritaMimika Kamis (3/11/2022) melalui telepon, Elisabeth mengungkapkan kerinduannya agar anak-anak penderita Celebral Palsy suatu saat nanti bisa memiliki rumah fisioterapi.

“10 tahun lebih HAM PT Freeport Indonesia (PTFI) bersama-sama dengan kami seharusnya mereka sudah menjadi orang tua asuh untuk anak-anak. Tadinya, tanggal 6 Oktober mau diadakan Hari Celebral Palsy kerjasama dengan PTFI, tadinya mereka mau support tapi tidak jadi karena budgetnya besar,” ungkapnya.

Menurutnya, budget besar dikarenakan untuk mendatangkan seorang ahli fisioterapi dan alat penunjang fisioterapi dengan kualitas terbaik pun sangatlah mahal.

“Biayanya 280 juta. Kan harus ada peralatan penunjang itu benar-benar mahal. Rencananya mau didatangkan dari Jakarta kerjasama dengan Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), kalau peralatannya dari Kebun Jeruk, kualitasnya memang bagus. Alat itu kita tidak bisa memakai sendiri tapi harus didampingi oleh fisioterapis,” jelasnya.

Lanjutnya, beberapa tahun lalu Yayasan Cinta Bella mendapatkan sumbangan dari karyawan-karyawan PTFI pada saat Natal namun tidak terpakai karena kualitas keamanan (safety-red) tidak ada, begitu pun kursi roda tidak safety untuk anak berkebutuhan khusus (abk).

“Kalau Bella (anak Elisabeth yang juga abk-red), saya terapi sendiri, dipantau dari Jakarta maupun Jogja via online, mereka koreksi Bella posisi duduk dan lainnya. Sekarang dia tinggal berdiri jadi butuh alat terapi, ini juga untuk anak-anak lain,” tuturnya.

Kondisi tersebut membuatnya merasa putus asa sehingga ia ingin menjual rumahnya agar perjuangannya untuk Bella dan anak-anak tidak selesai hanya karena terkendala fisioterapis.

“Pemerintah daerah (pemda) dan pemerintah provinsi masih memandang sebelah mata, dan belum terbuka mata hati mereka untuk melihat bahwa anak-anak lumpuh otak butuh hidup dan dicintai, mereka perlu kasih sayang dan layak untuk diperjuangkan. Saya sedih lihat anak-anak tinggal kulit sama tulang,” tukasnya.

Dari ratusan anak yang ditangani oleh Yayasan Cinta Bella kini tersisa 30 anak. Diantara mereka sudah ada yang dipanggil oleh Tuhan, ada yang pindah rumah dan pindah kota.

“Yayasan Cinta Bella berjuang bukan untuk anak normal atau sehat tapi berkebutuhan khusus. Kami menyuarakan hak hidup anak lumpuh otak agar mereka bisa punya rumah tumbuh kembang, rumah fisioterapi. Kalau tidak diterapi mereka menyatu antara kulit dan tulang,” sedihnya.

“Sejujurnya saya malu sekali, karena saya sudah buat proposal ke HAM PTFI, dan disana juga sudah buat proposal (Jakarta-red) mau kesini tetapi HAM PTFI menolak dengan alasan budget besar. Padahal mereka yang menawarkan. Namun, kami bersyukur masih ada yang datang bawa sumbangan tapi kami rindu ada sponsor utama,” imbuhnya.

Meski dikatakan untuk tahun ini sumbangan tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, ia tetap membagikan sumbangan yang ada kepada anak-anak meski ada yang dapat namun juga ada anak yang tidak dapat.

“Kami berharap Yayasan Cinta Bella tidak tenggelam, sedih sekali mereka punya kondisi dan mereka tidak sakit hanya tidak memiliki kesempatan serta orang tua juga tidak punya pengalaman. Terkadang saya putus asa, seperti Bella dia sudah besar, dia perlu kursi roda dan alat untuk angkat ke kamar mandi kalau saya sudah tidak kuat gendong ke kamar mandi,” kisahnya.

Dari sekian donatur, beberapa tahun lalu YPMAK pernah memberikan sumbangan sebesar Rp150 juta melalui Ihfa Karupukaro untuk mobil, namun dikarenakan pandemi sedang marak saat itu dan pemerintah menerapkan lockdown, sehingga ia menggantinya untuk membeli kebutuhan pokok dan bedah rumah salah satu anak penderita Celebral Palsy.

“Semoga terbuka pintu hati pemda dan PTFI. Kita mau berharap hak perlindungan terhadap anak bagaimana, mereka juga mendapat kekerasan tanpa kita sadari dikurung didalam rumah, tidak diberikan nutrisi yang layak, dicampakkan dan mendiskriminasikan begitu saja kita juga bersalah. Mereka juga layak untuk di hormati dan dihargai,” tandasnya.

Elisabeth berharap agar peringatam Hari Celebral Palsy pada tanggal 6 Oktober dapat digaungkan di tanah Papua sama seperti di kota lain di Indonesia dan di luar negeri.

“Semoga kita bisa menghargai dan menghormati para pejuang lumpuh otak ini sehingga suatu hari nanti ketika anak-anak dipanggil Tuhan mereka tahu bahwa ada yang mencintai mereka. Kita semua harus mengambil bagian,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Hari Pertama, 489 Pegawai Pemkab Mimika Dinyatakan Bersih Dari Narkoba

Foto bersama Plt Bupati Mimika,Johannes Rettob didampingi Kepala BNNK Mimika,Kompol Mursaling dengan sejumlah pejabat usai melakukan tes urine

MIMIKA, BM

Hasil tes urine hari pertama terhadap 489 pegawai di lingkup pemerintahan Kabupaten Mimika pada Senin (31/11/2022) telah keluar.

Hasilnya adalah 489 pegawai yang terdiri atas sejumlah pejabat, ASN maupun non ASN yang mengikuti tes tersebut dinyatakan bersih dari narkoba.

Demikian disampaikan oleh Kepala BNNK Mimika, Kompol Mursaling saat dikonfirmasi melalui telepon.

Tes urine yang dilaksanakan merupakan kegiatan rutin guna menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika.

"Ini juga sebagai bentuk melakukan deteksi dini,"ujar Mursaling.

Untuk diketahui bahwa kegiatan tes urine yang dilaksanakan sejak Senin di lobi Kantor Bupati Mimika juga menjadi bagian dalam rangkaian peringatan HUT ke-51 Korpri demi mewujudkan ASN Pemda Kabupaten Mimika Bersinar (Bersih Dari Narkoba). (Ignasius Istanto)

Gandeng PTFI, Dinkes Mimika Gelar Pengobatan Gratis

Suasana kegiatan pengobatan gratis oleh Dinas Kesehatan Mimika di Pos Peka, lokasi eks Pasar Swadaya, Jalan Yos Sudarso, Rabu (2/11/2022)

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan Mimika menggandeng PT Freeport Indonesia menggelar pelayanan kesehatan gratis secara masal di Pos Peka, lokasi eks Pasar Swadaya, Jalan Yos Sudarso, Timika, Rabu (2/11/2022).

Maya Samuel selaku Penanggungjawab Lapangan kepada beritamimika.com mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut atas hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2021.

"Di sini, kita sediakan layanan pemeriksaan lab untuk pemeriksaan malaria, gula darah, HIV, dan pemeriksaan hepatitis," ujarnya saat ditemui di sela-sela kegiatan.

Maya menjelaskan, pengobatan masal ini dilakukan selama lima hari, terhitung sejak Senin (31/11/2022) kemarin.

"Hari pertama kita pos di kelurahan, yakni Kelurahan Koperapoka. Kemudian kemarin hari kedua itu kita kunjungan dari rumah ke rumah tapi karena kurang maksimal jadi hari ini kita kembali buka pos di (eks) pasar lama," jelasnya.

Dalam proses pengobatan door to door, kata Maya, pihaknya juga melakukan intervensi hasil riskesdas pada dua rumah untuk diambil sample makanan.

"Kemarin kita jalan dengan CHD. Mereka yang ambil sample makanan sekaligus pemeriksaan logam," katanya.

Sementara itu, Maya menyampaikan bahwa sejauh ini keluhan yang diterima paling banyak adalah demam dan batu pilek.

"Untuk hari pertama itu ada 95 kunjungan, yang terdeteksi malaria ada 3 orang. Hari kedua hanya 47 yang kami periksa, dan hanya 2 yang malaria. Untuk hari ini belum bisa kita sampaikan, nanti selesai dulu," papar Maya.

Lebih lanjut, untuk kegiatan hari Kamis dan Jumat besok, Maya menyampaikan pihaknya akan melakukan pengobatan gratis di sekolah-sekolah.

"Kita akan laksanakan di dua sekolah, SD Inpres Koperapoka dan SD Negeri Koperapoka," Pungkasnya. (Endi Langobelen)

Top