Ini Wilayah-Wilayah yang Bebas Malaria di Mimika

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra
MIMIKA, BM
Pada 2016, Kabupaten Mimika merupakan daerah dengan kasus malaria tertinggi yang berkontribusi terhadap 30 persen kasus malaria di Indonesia.
Namun secara perlahan pertumbuhan kasus malaria di Mimika dapat ditekan sehingga Mimika kini berada pada posisi ketiga di Provinsi Papua di bawah Sarmi dan Kerom untuk kasus malaria tertinggi.
Walau merupakan daerah endemis malaria, ternyata ada wilayah di Mimika yang telah bebas atau eliminasi malaria.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Reynold R Ubra menyebutkan bahwa wilayah Kelurahan Kuala Kencana, Banti dan Kampung Amamapare serta wilayah pesisir bebas dari malaria.
Beberapa wilayah ini bebas dari malaria karena tidak ada ruang nyamuk berinduk. Bahkan berdasarkan data Dinas Kesehatan tahun 2018, beberapa wilayah ini kasus malarianya nol atau tidak ada warga yang terkena malaria dalam setahun.
"Kalau kita lihat di Kuala Kencana tidak ada karena genangan air sudah dikendalikan, hutan tetap ada, dan masyarakat tidak melakukan aktifitas di luar rumah pada malam hari," tutur Kadinkes Mimika, Reynold Ubra kepada BM.
Reynold mengatakan, keadaan ini juga sama halnya dengan wilayah di pesisir. Peluangnya kecil karena ekosistem nyamuk di wilayah pesisir masih banyak hutan sehingga nyamuk tidak akan terbang ke rumah karena tempat hidup ekosistemnya ada.
"Nyamuk hanya masuk ke rumah jika di sekeliling rumah itu ada genangan air ataupun sampah plastik yang menampung air sehingga bertelur dan jadi tempat istirahat nyamuk," kata Reynold.
Kondisi ini berbeda dengan di wilayah kota. Di Kota Timika khususnya, terdapat banyak genangan air. Selain itu tidak adanya ekosistem nyamuk apalagi tidak ada hutan sehingga nyamuk melakukan migrasi untuk bertahan hidup dengan mencari tempat yang ada genangan air dan tempat sampah.
Sementara untuk kasus malaria di Banti merupakan kasus malaria impor karena riwayat perjalanan masyarakat ke Timika.
"Dari Timika tidak mempunyai gejala malaria namun sampai di kampung barulah ada gejala malaria tetapi bukan didapatkan di Kampung Banti namun karena riwayat impor itu," ujarnya.
Reynold menjelaskan, infeksi malaria terjadi karena adanya transmisi lokal. Biasa terjadi karena aktifitas warga di luar rumah pada malam hari.
"Jadi polanya sama, kalau masyarakat ada aktifitas di luar rumah pada malam hari baik di Kota Timika maupun di pinggiran Kota Timika sama. Disitulah potensi mereka mendapat gigitan nyamuk malaria," ungkapnya.
Secara data, Reynold mengatakan sistem pelaporan kasus malaria di Mimika pelaporannya dilakukan secara elektronik (assesment). Pelaporan dari klinik dilakukan melalui W2.
"Kami sudah coba memperbaiki dari tahun 2008, 2009 Dinas Kesehatan bersama YPKMP melakukan bagaimana pencatatan pelaporan yang terpadu dan berkelanjutan. Memang dari ceklist kami ada klinik atau rumah sakit swasta yang sudah ikut melaporkan tetapi juga ada fasilitas kesehatan swasta yang belum melaporkan," ungkapnya.
Dikatakan, dari 23 fasilitas kesehatan puskesmas, RSUD, RSMM dan beberapa fasilitas kesehatan swasta lainnya di Mimika, RS Kasih Herlina, Klinik Kuala Kencana, RS Tembagapura sudah melakukan pelaporan kasus secara elektronik dan langsung terkonek ke Kementerian Kesehatan. (Shanty)



