Sambut Hari Raya Nyepi, Bupati dan Wakil Bupati Mimika Lepas Peserta Pawai Ogoh-Ogoh
Foto bersama usai iegiatan
MIMIKA, BM
Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong secara resmi melepas peserta pawai ogoh-ogoh yang merupakan Tradisi Leluhur umat Hindu, yakni Ritual dalam rangka mewujudkan keseimbangan dan Keharmonisan Alam.
Pelaksanaan Pawai Ogoh-ogoh yang diselenggarakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Mimika dimulai di Lapangan Eks Pasar Swadaya, Rabu (18/3/2026) sore.
Ogoh-ogoh sendiri adalah sebuah simbol atau yang melambangkan sifat angkara murka, kesombongan, keserakahan dan prilaku buruk yang ada pada diri manusia, sehingga Ogoh-ogoh pun di arak keliling untuk kemudian dibakar, dengan maksud dan tujuan agar prilaku buruk dan negatif yang ada pada diri manusia bisa ikut bersama ogoh-ogoh yang pada akhirnya terbakar habis bersama dengan prilaku buruk tersebut.
Untuk diketahui, pawai ogoh-ogoh mengambil rute dari lapangan eks Pasar Swadaya menuju lampu merah Bank Papua, kemudian kembali ke titik awal.
Pawai ini turut dimeriahkan dengan tarian Cakalele dari Maluku, atraksi barongsai, serta peserta pembawa obor.
Bupati Mimika, Johanes Rettob dalam sambutannya mengucapkan terima kasih karena tahun ini pelaksanaan pawai ogoh-ogoh kini digelar di tengah Kota Timika. Karena, tahun lalu kegiatan ini hanya dilaksanakan di Pura.
“Dulu pawai hanya dilakukan di sekitar pura di SP4, tetapi sekarang sudah bisa dilaksanakan di tengah kota sehingga seluruh masyarakat dapat melihat dan memahami keberagaman yang ada di Mimika,” kata Bupati Mimika Johanes Rettob.
Bupati mengatakan, momen ini menjadi penting untuk memperkuat nilai toleransi antar umat beragama, terlebih pada tahun ini perayaan Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah berlangsung dalam bulan yang sama.
“Ini momentum untuk terus menjaga harmoni dan kerukunan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Kegiatan Tawur Agung Kesanga ini bukan hanya sebagai rangkaian ritual keagamaan semata, tetapi juga memiliki makna yang sangat dalam dalam menjaga keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.
"Hari Raya Nyepi merupakan momentum yang sangat sakral bagi umat Hindu. melalui catur brata penyepian, kita diajak untuk melakukan introspeksi diri, menahan diri dari segala aktivitas duniawi, serta mendekatkan diri kepada sang pencipta. Nilai-nilai ini sejatinya tidak hanya relevan bagi umat Hindu saja, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dalam kehidupan bermasyarakat,"ungkapnya.
Sementara itu, Ketua PHDI Mimika, I Nyoman Dwitana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema Nyepi tahun ini adalah “Vasudhaiva Kutumbakam (Satu Bumi, Satu Keluarga)”.
“Tema ini mengandung makna bahwa umat Hindu di Mimika berkomitmen untuk hidup dalam harmoni dan persaudaraan,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa rangkaian perayaan Nyepi sebelumnya telah diisi dengan kegiatan sosial, seperti donor darah dan halal bihalal. (Shanty Sang)





























