Mampukah Potensi Seni Ukir Mbitoro Menembus Pasar Nasional dan Internasional?

Pemahat Irenius Akimura (tengah) didampingi pengukir lainnya
MIMIKA, BM
Perlu diketahui semua warga Mimika bahwa, Seni ukir Mbitoro telah diakui sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) Suku Kamoro.
Suku Kamoro atau kini dikenal dengan sebuatan Mimika Wee merupakan salah satu suku asli di Kabupaten Mimika yang mendiami daerah pesisir pantai.
Para pemahat atau pengukir terlahir dari negeri ini. Salah satu ukiran yang merupakan warisan secara turun temurun adalah Patung Mbitoro.
Kepada BeritaMimika Kamis (27/10/2022) di sela kegiatan festival UMKM, pendiri sekaligus pengukir dari Sanggar Mbitoro, Irenius Akimura menceritakan sejarah tentang Mbitoro.
“Patung itu dasar dari ukiran. Sejarah Mbitoro berawal pada zaman dahulu diangkat atau ditemukan oleh manusia yang ada di alam nyata ini, seseorang yang mirip dengan yang ada di alam gaib. Dulu tidak ada patung di atas muka bumi ini. Awalnya terjadi persoalan dalam keluarga, ayah dan ibu usir anaknya,” katanya.
Lanjutnya, anak itu dengan dorongan para leuhur pergi bertemu dengan patung mbitoro di alam gaib.
“Jadi, harus lewat air laut baru bisa ketemu ada yang berikan petunjuk, akhirnya ketemu di bawah laut. Mereka kasih naik dari bawah itu sampai sekarang bisa dibuat ukiran patung,” imbuhnya.
“Disana ada orang yang miripnya sama juga dengan orang itu. Setelah dipelajari dari orang itu, dia mulai mengajari membuat ukiran Mbitoro di muka bumi ini. Patung itu dikembangkan sampai saat ini,” ungkapnya.
Ia menuturkan Mbitoro yang berukuran besar biasanya dipajang dalam pesta adat.
“Patung Mbitoro bisa bergerak sendiri, kita bisa merasakan karena dia punya dorongan keras jadi kita harus tahan jangan sampai lari. Bahkan, orang yang tahan bisa juga terplanting,” ujarnya.
Dikatakan hanya seseorang yang mewarisi keahlian khususlah yang dapat menggerakan patung Mbitoro.
“Diwariskan oleh orang khusus yang sudah diberikan mandat turun temurun, dengan kata-kata yang mendalam dan tongkat dia bisa membuat Mbitoro jalan. Kami tidak tahu kata-kata itu hanya mereka saja yang tahu,” tambahnya.
Patung Mbitoro dapat ditemui pada saat acara adat meremajakan anak dimana ketika anak sudah mulai besar dan bisa membantu orang tua. Kedua, pada saat seseorang sudah bisa bekerja sendiri dan bertanggung jawab mencukupi hidup.
“Disebut Mbitoro karena itu dibawa dari bawah atau alam gaib,” jelasnya.
Saat ini, Sanggar Mbitoro yang berdiri sejak tahun 1994 memiliki enam pemahat. Sejak berdiri, karya mereka telah diakui di Jakarta bahkan dapat menembus Australia, Belanda, Singapura, Papua New Guinea hingga Amerika Serikat.
Namun, sayangnya kejayaan dulu kini telah tergantikan. Bahkan, untuk tahun ini Irenius mengaku belum mendapatkan pesanan dari luar kembali.
“Untuk tahun ini belum ada pesanan dari luar, kami juga berupaya untuk memperkenalkan ini supaya orang luar tahu tentang ukiran ini. Kami keterbatasan komunikasi melalui jalur mana. Kami harap pemerintah bisa bantu, bagaimana kita punya hasta karya ini bisa dipromosikan sampai keluar daerah sehingga mereka tahu bahwa pusatnya disini di Mimika,” tandasnya.
Hingga kini, Sanggar Mbitoro terus menurunkan seni ukir Mbitoro dari generasi ke generasi agar warisan budaya leluhur ini terus ada dan tak pernah lekang oleh waktu.
Namun, yang menjadi pertanyaan apakah setelah festival ini selesai diselenggarakan Seni Ukir Patung Mbitoro kembali mampu menembus pasar nasional dan internasional?!Dukungan pemerintah daerah akan menjadi jawabannya. (Elfrida Sijabat)



