Mahasiswa Mimika Yang Kuliah di China Kini Jalani Kuliah Via Online

Meyke Teniwut, Mahasiswi Mimika yang kuliah di China

MIMIKA, BM

Meyke Teniwut (18) adalah mahasiswi asal Mimika yang kini tengah melanjutkan kuliah di University of Technology di Provinsi Zhejiang Kota Hangzhou. Di universitas ini ia mengambil jurusan teknik lingkungan dan saat ini sudah semester dua.

Pada akhir Januari (30/1) lalu, Ia beserta tujuh mahasiswa asal Papua lainnya dari kampus tersebut dipulangkan ke tanah air oleh Pemerintah Provinsi Papua akibat wabah Virus Corona yang ditemukan pada Akhir Desember 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina.

Selain Meyke, ketujuh mahasiswa lainnya adalah Rosalina Tebadiyeba Gobay (Paniai), Gita Samawi Ajamiseba (Wondama) Marthenci Yosina Sikowau (Serui), Flora Kristina Bonai (Serui), Yosefina Inggrid Offide (Jayapura), Yosefina Sirirei ( Jayapura) dan Carnelia Windi Injilia Yoku (Jayapura).

Kampus mereka berjarak cukup jauh dari Kota Wuhan (tempat lahirnya virus corona), jaraknya enam jam dari Hangzhou. Walau demikian, mereka harus dipulangkan Pemprov Papua agar terhindar dari penyebaran virus ini.

Anak dari Alex Lakesubun pegawai Bappeda Mimika dan Margaretha Rahawarin seorang wirausaha ini sejak 2 Maret 2020 menjalani kuliah online atau jarak jauh dari Timika dengan menggunakan aplikasi WeChat, DingTalk dan SuperStar.

“Kami diliburkan kemarin sampai tanggal 17 Februari, tapi karena situasi disana belum stabil akhirnya kami jalani kuliah online dimulai tanggal 2 Maret. Kemarin saya terkendala aplikasi karena WeChat sempat terblokir padahal semua pemberitahuan sumbernya dari WeChat. Setelah WeChat bagus, aplikasi lain justru yang bermasalah,” katanya saat ditemui BeritaMimika di kediamannya di Jalan Budi Utomo.

Meyke mengatakan jika memilih, ia lebih memilih kuliah secara langsung (tatap muka-red) jika dibandingkan dengan kuliah online, karena menurutnya agak rumit dan terlalu fokus, belum termasuk banyaknya tugas yang diberikan.

”Kami dibagi per kelompok ada 30-40 orang. Satu kelompok satu mata kuliah jadi harus scan barcode. Dosen kasih mata kuliah dalam bentuk live (siaran langsung) atau rekaman video. Kalau live kita bisa paham tapi video sedikit sulit karena saat tidak mengerti tidak bisa langsung bertanya. Kami kuliah gunakan bahasa Inggris dan China,” ungkapnya.

Lanjut Meyke, untuk mata kuliah praktek seperti olahraga mereka pun harus mengirimkan video dimana merekapun sedang melakukan olahraga. Saat ini mereka sebenarnya sudah memasuki semester praktek.

“Akhir semester ini bulan Juni. Kondisi disana belum terlalu stabil. Tapi kami bersyukur sampai sekarang virus corona belum masuk kawasan kampus. Asrama kami juga ada di dalam kampus. Hanya saja di kota Hangzhou tempat saya belajar sudah ada yang kena virus ini,” ungkapnya.

Meyke beserta temannya belum mendapat kepastian kapan mereka akan kembali ke Cina. Hal ini juga dikarenakan kondisi disana yang belum stabil dan steril.

“Dari provinsi Papua belum ada tanggapan apa-apa. Saya berharap corona cepat selesai dan kami bisa cepat kembali kuliah dan praktek. Karena semester ini biasanya kita praktek. Saya rindu suasana disana dan teman-teman di kampus. Di sana supermarket sudah mulai buka di kampus, sebelumnya kantin dan supermarket ditutup tetapi dibuka dalam jangka waktu tertentu saja,” tuturnya. (Elfrida)

Top