Pembangunan dan Rehab Sarpras Sekolah Untuk Jenjang SMP Di Mimika Hampir Rampung
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Manto Ginting
MIMIKA, BM
Pada tahun ini pembangunan dan rehab sarana prasarana (sarpras) sekolah untuk jenjang SMP di Kabupaten Mimika sudah berjalan 80 persen sehingga dapat dikatakan hampir rampung.
Hal ini dilakukan tidak hanya di perkotaan tetapi juga hingga ke pedalaman seperti Atuka dan Amar.
Sekolah yang ada di wilayah pedalaman kebanyakan di lakukan rehab karena pada dasarnya sekolah tersebut masih bagus hanya saja terdapat kerusakan seperti bagian atap yang diakibatkan oleh angin kencang.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Mimika, Manto Ginting kepada BeritaMimika melalui telepon.
“Di Atuka kita rehab perpustakaan dan asrama yang tidak terpakai jadi ruangan kelas SD ada enam kelas. Daripada asrama tidak terpakai, kita rehab supaya tidak menumpang lagi,” tuturnya.
Lanjutnya, untuk di Amar dilakukan rehab ruangan yang rusak, sementara untuk perpustakaan secara perlahan juga akan dibangun disana.
“Di Potowaiburu kita bangun ruang guru karena sudah tidak mencukupi. Rata-rata di pedalaman untuk ruang kelas masih bagus hanya rusak mungkin karena angin kencang, plafon terbang jadi kita rehab,” imbuhnya.
Untuk pembangunan di wilayah perkotaan, Manto menjelaskan disesuaikan dengan kebutuhan setiap sekolah.
“Kita 80 persen hampir rampung, yang belum akan dikerjakan sampai akhir kontrak bulan Desember. Laboratorium komputer, perpustakaan, unit kesehatan sekolah (uks) dan toilet sudah semua 100 persen,” ungkapnya.
Di SMPN 1 Mimika dibangun pagar dan sudah 90 persen pengerjaan. Sementara SMPN 2 ditambah lagi sepuluh ruang kelas dikarenakan jumlah murid yang semakin banyak.
“Pembangunan ruang kelas juga untuk SMP 11 dan Koperapoka. Kalau SMP Ebenheizer itu perpustakaan. Sementara SMP 3 toilet, SMP 4 toilet dan kantor guru. Rata-rata sekolah perlu toilet dan air bersih,” ucapnya.
Tak berhenti disitu, Dinas Pendidikan juga telah merehab perpustakaan yang berada di Distrik Kwamki Narama yang telah dirusak oleh orang dengan gangguan jiwa.
“Pembangunan laboratorium komputer diperlukan karena sekolah sudah harus melaksanakan Asesmen. Namun, ketika sudah dibangun yang terpenting adalah pengamanannya,” tukasnya.
Menurutnya, yang menjadi kendala saat ini adalah masalah sengketa tanah karena surat yang tidak jelas sehingga masih ada klaim mengklaim. Ia berharap agar tim gabungan dapat menyelesaikan persoalan tersebut.
“Untuk anggaran tahun ini kami sudah menjalankan dengan baik. Sudah diatas 80 persen semua pengerjaannya. Kalau yang kecil-kecil hampir 100 persen. Saya harap sarpras pendukung terpenuhi terutama yang berkaitan dengan standar sarpras, terutama sarana air bersih itu penting,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)



