Makna Rabu Abu 2020 : Gereja Tidak Boleh Diam, Jangan Rampas Hak Kami

725A624A-0325-41EB-9892-BBCCABCED97D
Seorang anak diberi abu di dahinya sebagai tanda pertobatan

MIMIKA, BM

Umat Katolik saat ini tengah memasuki awal masa Pra Paskah yang merupakan periode pertobatan dan refleksi perjalanan hidup.

Masa ini ditandai dengan Perayaan Rabu Abu yang merupakan hari pertama umat Katolik berpuasa dan pantang selama 40 hari.

Perayaan di Gereja Santo Stefanus Sempan, Rabu (26/2) malam dipimpin langsung Pastor Paroki Maximilanus Dora OFM.

Makna Rabu Abu yang disampaikan melalui khotbahnya dikatakan bahwa Gereja Katolik tidak akan diam melihat dan menyaksikan pembangunan ekonomi di negeri ini hanya mengutamakan dan menguntungkan segelintir manusia tetapi menghancurkan banyak rakyat khususnya rakyat kecil.

“Gereja dipanggil untuk menegakan keadilan dan persamaan di dunia ini termasuk di Papua. Sungguh tragis bila liturgi-liturgi di gereja kita begitu indah namun manusia-manusia di sekitar kita mengalami kemiskinan, keterpurukan dan hancur baik rohani maupun jasmani,” tegasnya.

Pastor berharap baik pemerintah dan semua lembaga swasta termasuk perusahan yang menyentuh langsung masalah ini agar menjaga kehidupan ekonomi yang bermartabat.

“Kita semua dituntut untuk menjaga ekonomi yang bermartabat. pembangunan ekonomi di tanah Mimika ini diwarnai dengan nilai-nilai injil sehingga harus ada keadilan, kejujuran dan kedamaian,” ungkapnya.

Pastor Max juga menyayangkan banyaknya mafia tanah di Mimika. Sejak 2014 ia melihat bahwa tanah-tanah di Mimika lebih banyak didominasi oleh pendatang. Bahkan merekalah yang melakukan transaksi jual beli, bukan masyarakat Kamoro dan Amungme.

“Jangan rampas hak kami, hak mereka. Yang hanya boleh menjual tanah adalah orang Kamoro dan Amungme namun sekarang telah berbeda, banyak orang mulai menjual tanah di negeri ini dengan cara-cara serakah. Mari kita bersikap jujur dan adil terhadap tanah ini. Ini menjadi bahan permenungan kita selama masa pertobatan ini,”ujarnya.

Pada perayaan ekaristi Rabu Abu ini, dibacakan juga Surat Pra Paskah 2020 Keuskupan Timika yang ditulis oleh Administrator Diosis Keuskupan Timika, Pastor Marthen Ekowaibi Kuayo, Pr.

Pastor Max mengatakan pada momen-momen pra paskah sebelumnya, surat gembala selalu dituliskan oleh Almarhum Uskup John Philips Saklil Pr. Momen ini kembali membangkitkan rasa rindu padanya.

“Kita memasuki masa pra paskah pada Rabu (26/2). Setiap tahun kita membuka masa pra paska yang ditandai dengan abu di dahi masing-masing. Abu sebagai tanda atau simbol bahwa kita memasuki masa pantang dan puasa. Pantang adalah mengurangi kebiasaan dalam hidup seperti merokok, perjudian dan lain-lain,” ujarnya membacakan Surat Gembala.

Puasa berarti makan satu kali dalam sehari khususnya pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Bunda gereja mengajak kita semua untuk berpantang dan berpuasa sebagai tanda solider dengan sesama dan mendekatkan diri dengan Tuhan sebagai pemberi kehidupan.

Dalam usaha untuk menghayati arti masa pra paskah, maka kita dibantu tema aksi puasa pembangunan yang ditawarkan KWI dengan merenungkan tema “Membangun Ekonomi yang Bermartabat”.

Tema ini mau mengingatkan bahwa ekonomi untuk melayani manusia karena pembangunan ekonomi berpusat pada manusia. Manusia menjadi tolak ukur pengembangan ekonomi. Ini berarti bahwa pengembangan ekonomi jangan mengeksploitasi manusia dan alamnya.

Ekonomi jangan semata dipandang sebagai lahan bisnis karena dengan demikian, martabat manusia tidak mendapatkan tempat dalam kehidupan ini.

Manusia jangan menjadi barang yang dapat diperjualbelikan oleh siapapun untuk memperoleh keuntungan yang berlebihan.

Lanjutnya, Gerakan Tungku Api kehidupan menjadi perhatian Keuskupan Timika beberapa tahun terkahir besama Almarhum Uskup John Philip Saklil Pr. Tungku merupakan simbol dan lambang kehidupan yang mengarahkan manusia kepada kesejahteraan.

“Kita berbicara tentang tungku api kehidupan berarti kita bicara tentang bagaimana orang menjadi manusia yang sejahtera. Wujud kehidupan sejahtera merupakan impian semua orang. Kesejahteraan akan terwujud dalam bentuk kerja. Kerja merupakan pintu masuk. Kita tidak akan mencapai kesejahteraan ketika melupakan nilai kerja dalam hidup,” ungkapnya.

Kita diajak untuk meningkatkan etos kerja karena panggilan hidup manusia sebagai makhluk individu dan sosial terungkap dalam wujud kerja.

Kerja merupakan satana efeketif untuk melawan kemisiskinian dan menuju kesejahteraan hidup (Amsal 10-4).

Dikatakan Allah telah memberi alam semesta untuk keberlangsungan hidup manusia. Namun daerah yang kaya akan sumber daya alamnya semisal Mimika, belum menjamin masyarakatnya sejahtera.

Dalam keadaan ini, masyarakat yang tergolong miskin tidak akan mendapatkan keuntungan dari sumber daya alam yang memadai karena beberapa alasan.

Pertama, kemisikinan karena struktur yang menjadi penghalang. Struktur kekuasaan dan tata pemerintahan serta sosial yang menyebabkan terjadinya ketimpangan dan hilangnya kemampuan sesesorang untuk mendapatkan sumber daya yang ada.

Kedua, kemiskinan karena ketebatasan keterampilan dan skill atau pengetahuan yang dimiliki oleh orang untuk memiliki kemauan agar ikut terlibat.

Ketiga, kemiskinan terjadi karena kemalasan di diri manusia. Sumber daya alam melimpah dan tanah yang luas namun lemahnya semangat keria menyebabkan manusia hidup dalam keterbatasan. Menjadi apatis dan tergantung pada orang lain. Mencari gampang dalam hidup dan tidak mau berjuang.

“Dalam masa pra paskah ini mari kita merefeleksikan diri kita untuk melepaskan diri dari semua penghalang yang membuat hidup kita menjadi miskin,” ujar Pastor Max di akhir khotbah perayaan ekaristi Rabu Abu. (Ronald)

Top