Pokja IV TP PKK Mimika Gelar Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Bagi Remaja

Foto bersama usai kegiatan

MIMIKA, BM

Menjaga Kesehatan Reproduksi sangat penting terutama bagi remaja, sebab masa remaja adalah peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, yang telah mengikuti semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa.

Kesehatan reproduksi bukan saja untuk remaja putri tetapi juga bagi remaja putra. Remaja putra juga harus mengetahui dan mengerti cara hidup yang sehat dengan reproduksi yang sehat, agar tidak terjerumus dalam pergaulan yang salah yang bisa merugikan diri remaja itu sendiri.

Oleh sebab itu, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Mimika melalui Pokja IV menggelar sosialisasi kesehatan reproduksi bagi remaja gereja, masjid, Budha dan Hindu.

Sosialisasi yang berlangsung di Hotel Grand Tembaga, Selasa (14/11/2022) dibuka secara resmi oleh Staf Alhi Bidang Ekonomi dan Keuangan Setda Mimika, Maria Rettob.

Dalam sosialisasi ini TP PKK menghadirkan narasumber Dokter Leonard Pardede yang adalah Ketua IDI Mimika.

Staf Alhi Bidang Ekonomi dan Keuangan Setda Mimika, Maria Rettob dalam sambutannya mengatakan, usia remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa ini remaja mengalami beberapa perubahan yang terjadi baik secara fisik, psikologis maupun sosial.

"Sejalan dengan perkembangannya remaja mulai bereksplorasi dengan diri, nilai-nilai identitas peran dan perilakunya. Pengaruh informasi global yang semakin mudah diakses justru memancing anak dan remaja untuk mengadaptasi kebiasaan-kebiasaan tidak sehat seperti merokok, minum minuman beralkohol, penyalahgunaan obat dan suntikan terlarang, perkelahian antara remaja atau tawuran,"kata Maria.

Pada akhirnya, kata Maria, secara kumulatif kebiasaan-kebiasaan tersebut akan mempercepat usia awal seksual aktif serta mengantarkan mereka pada kebiasaan berperilaku seksual yang beresiko tinggi.

Hal ini karena kebanyakan remaja tidak memiliki pengetahuan yang akurat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas serta tidak memiliki akses terhadap informasi dan pelayanan reproduksi.

Menurutnya, agar masa peralihan menjadi remaja lebih berkualitas, upaya yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan edukasi kesehatan.

Edukasi yang diberikan diantaranya tentang cara perawatan organ reproduksi, perkembangan remaja saat pubertas, edukasi tentang pornografi danbedukasi tentang kehamilan tidak diinginkan.

"Selain itu edukasi juga tentang aborsi, edukasi kesehatan tentang HIV dan Aids dan infeksi menular seksual serta iritasi kesehatan tentang pendewasaan usia pernikahan dengan melibatkan peran pemerintah orang tua dan juga per grup," ujarnya.

Dengan melakukan kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan remaja sehingga dapat meningkatkan kesadaran remaja akan pentingnya masalah kesehatan reproduksi dan menekan angka kejadian kasus-kasus Kesehatan Reproduksi Remaja.

Dikatakan, saat ini pemerintah berupaya melakukan edukasi kesehatan bagi remaja khususnya pada dampak kehamilan dan aborsi yang tidak dijinkan serta penyakit lainnya seperti HIV.

"Banyak anak-anak menikah di usia dini. Jangan menikah dulu kalau masih sekolah apalagi usia perkawinan ideal untuk wanita adalah 20 tahun," ujarnya.

Ia menyebut, kegiatan ini positif dimana dirinya mengapresiasi tim penggerak PKK dan pengurus karena remaja adalah masa depan bangsa.

"Kalian adalah masa depan bangsa yang akan membangun Mimika ke depannya," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Sosialisai, Carolina Heatubun mengatakan saat ini Indonesia banyak permasalahan dan tantangan dalam upaya pelayanan reproduksi dan pemenuhan hak-hak reproduksi.

Menurut laporan keterangan HIV-AIDS triwulan IV tahun 2018 persentasi HIV tertinggi pada kelompok umur 25-49 tahun dikisaran 69,6 persen diikuti kelompok usia 20-24 tahun dikisaran 15,6 persen.

Bahkan, pernikahan dan kehamilan remaja cukup tinggi dan menurut SDKI tahun 2017 sebanyak 7 persen perempuan usia 15-19 tahun sudah pernah melahirkan atau sudah melahirkan anak pertama.

"Sedangkan angka fersilitas kelompok umur 15-19 tahun sebesar 36 sampai 1000," ucapnya.

Lanjutnya, berdasarkan Riskesdas tahun 2018 kekurangan energi kronis pada ibu hamil sebesar 17,3 persen dan diantaranya, perempuan usia 15-19 tahun yaitu sebesar 33,5 pesen.

"Upaya untuk meningkatkan status kesehatan reproduksi harus dilaksanakan bukan hanya setelah terjadi kehamilan tetapi juga harus dilaksanakan sejak masa remaja, calon pengantin dan wanita usia subur," kata Carolina.

Adapun, tujuan sosialisasi ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan remaja atau pemuda di Mimika dalam kesehatan reproduksi, mmberikan edukasi bagaimana menjaga kesehatan reproduksinya.

Lainnya, meningkatkan kemandirian wanita dalam memutuskan peran dan fungsi reproduksinya dan meningkatkan hak dan tanggungjawab sosial wanita dalam menentukan kapan hamil, jumlah dan jarak kehamilan, serta meningkatkan hak dan tanggungjawab sosial pria akibat dari prilaku seksual dan fertilitasnya kepada kesehatan dan kesejahteraan pasangan dan anaknya.

"Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, sehingga dapat menimbulkan kesadaran remaja akan pentingnya masalah kesehatan reproduksi remaja," ungkapnya. (Shanty Sang)

Top