Menuju Indonesia Bersih Sampah 2025, Kesadaran Masyarakat Mimika Membuang Sampah Masih Rendah

Plh. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jefri Deda

MIMIKA, BM

Sesuai amanat Presiden RI Joko Widodo yakni Menuju Indonesia Bersih Sampah 2025, permasalahan sampah di Kabupaten Mimika menjadi permasalahan yang sering ditemui di sepanjang jalan.

Bayangkan dalam sehari, sampah yang dihasilkan mencapai 200 ton per hari. Pemerintah daerah pun telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 tahun 2012 yang sudah disosialisasikan sejak tahun 2014.

Namun, hingga kini masih saja kota Timika belum bersih sepenuhnya dari sampah.

Kepada BeritaMimika di ruang kerjanya Selasa (27/2/2023), Plh. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mimika Jeffri Deda mengatakan DLH telah melakukan sejumlah strategi untuk Mimika dapat menjadi kota bersih.

Strategi pertama yakni sosialisasi mulai dari tingkat RT/RW, kepala desa, lurah, camat dan masyarakat secara umum baik melalui media maupun spanduk. Bahkan, sosialisasi dilaksanakan hingga ke tempat ibadah.

“Tetapi kesadaran masyarakat masih rendah. Strategi kota bersih sesuai perda pengangkutan pembuangan sampah mulai dari jam 6 pagi sampai 6 sore. Petugas kita bergerak sejak jam 6 pagi. Kita angkut di 21 titik tempat pembuangan sampah (tps) yang resmi ditunjuk oleh lurah, tapi yang ilegal banyak,” ucapnya.

Dikatakan saat ini DLH Mimika telah memiliki 13 Dumptruck dan 7 Amroll. Keseluruhan armada tersebut bergerak mulai dari pukul 06.00 wit hingga 12.00 wit dengan harapan tidak ada yang membuang sampah lagi.

“Tapi setelah itu, kita lewat masih ada masyarakat yang bandel membuang sampah. Tugas kita mengangkut sampah, tetapi penegakan aturan Perda ada di Satpol PP,” imbuhnya.

“Kendala awal katanya mereka belum ada dana pengawasan. Kami pernah bayar satu bulan satu juta untuk setiap titik tapi kami disalahkan Inspektorat tidak boleh membiayai instansi lain.
Di depan SD Koperapoka bersih, tidak ada pembuangan sampah. Di Airport TPS Sukun yang biasa sampah membludak siang itu bersih karena ada satpol,” ujarnya.

Tak berhenti disitu, strategi kedua yang ambil oleh DLH adalah menempatkan mobil truk setiap malam di titik-titik rawan sampah.

“Supaya pagi sampah sudah berkurang dan ketika pagi diangkut sampah tidak ada lagi tapi masih saja ada yang buang. Kami buat strategi lagi. Kami buat dua shift yakni pertama pukul 6 pagi sampai 12 siang dan shift kedua dari jam 4 sore sampai 9 malam. Tapi masih juga tengah malam dibuang lagi,” terangnya.

Lanjutnya, dalam Perda no 11 tahun 2012 juga tercantum bahwa dianjurkan untuk setiap mobil harus memiliki tempat sampah, sehingga tidak membuang sampah dari jendela mobil.

“Perda sudah bagus hanya penerapan dan tindakan. Jadi, sekarang bukan waktunya lagi untuk sosialisasi tetapi penindakan sanksinya harus ditegakkan. Harus ada shock theraphy siapa yang buang sampah ditangkap, buat bap dan suruh bayar 25 juta atau 3 bulan kurungan,” tegasnya.

Menurutnya, Satpol PP sangat berperan dalam penegakan Perda sampah agar kota Timika menjadi bersih, selain dengan adanya mobil penyapu jalan dan armada yang dimiliki oleh DLH.

“Plt Bupati Mimika menugaskan kita untuk melihat kegiatan pengolahan sampah di Banyumas dengan membawa pelaku-pelaku UMKM untuk memacu mereka melihat kegiatan pemerintah yang bukan hanya bersifat fisik tapi bagaimana mengolah sampah untuk dijual kembali. Sampah plastik yang akan dibuang ke TPA bisa diolah dan sisanya dibuang langsung ke TPA,” jelasnya.

Sementara untuk rumah pengelolaan kompos yang ada di TPA Iwaka saat ini belum difungsikan karena belum tersedianya tenaga pengelola.

“Kami akan bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI) yakni environmental dalam pengolahan kompos. Rumah yang disana juga (TPA Iwaka-red) bisa langsung difungsikan dan mengurangi sampah. Ini semacam CSR dalam bentuk pelatihan. PTFI banyak membantu kita untuk penyediaan tempat sampah, pupuk dan bunga,” ucapnya.

Jeffri menuturkan TPA Iwaka yang seluas 10 hektar sudah terpakai 6 hektar, tinggal menunggu waktu empat hektar lagi akan menjadi penuh dengan sampah.

“Sistem pembuangan ada dua yakni pertama open dumping dimana orang datang dengan truk, buang alat berat kemudian di dorong lama-lama lahan penuh. Kedua, Sanitary landfill dimana sampah bisa menjadi gas dikemudian hari, jadi ditaruh terpal, kemudian sampah dibuang dan ditutup terpal. Lama-lama menjadi gas metan dan bisa digunakan untuk gas rumah tangga dan listrik,” ungkapnya.

DLH saat ini telah merencanakan untuk pembangunan Sanitary Landfill, dengan membeli lahan sebanyak 10 hektar pada tahun ini.

“Yang sekarang itu open dumping. Mudah-mudahan tahun depan bisa bangun sanitary landfill. Dunia ini mulanya Tuhan ciptakan baik, tapi manusia yang hancurkan. Mari kita sama-sama menjaga ciptaan Tuhan supaya anak cucu kita kelak bisa menikmati,” harapnya. (Elfrida Sijabat)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top