Tak Ada Mesin EDC, Penyaluran Pupuk Subsidi di Mimika Masih Manual

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Mimika, Alice Wanma

MIMIKA, BM

Proses transaksi jual beli pupuk subsidi menggunakan kartu tani di Kabupaten Mimika, Papua Tengah hingga kini belum juga dijalankan sebagaimana mestinya.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Mimika, Alice Wanma, saat diwawancarai pada Senin (27/2/2023) di pelataran Kantor Pusat Pemerintahan, Jalan Poros SP3, Timika, Papua Tengah.

Dijelaskan bahwa dalam setiap pembelian pupuk subsidi di pengecer resmi, para petani diwajibkan membawa kartu tani untuk melakukan transaksi.

Sayangnya, mesin elektronik data capture (EDC) yang biasanya dipakai untuk bertransaksi belum ada sama sekali di semua pengecer.

"Sebelumnya memang pernah ada, tapi tidak tahu bagaimana mesin EDC itu ditarik kembali lagi oleh pihak PT BRI. Padahal Mesin itu dia harus ada di pengecer. Jadi, setiap petani datang membeli langsung dengan menggesek kartu taninya di mesin itu," jelasnya.

Akibat belum adanya mesin EDC, Alice mengatakan bahwa dari Januari 2023 hingga saat ini, pembelian pupuk subsidi masih dilakukan dengan proses manual.

"Pembelian manual, laporannya juga kami buat manual karena mesin EDC belum ada," tuturnya.

Alice juga mengatakan ia telah membicarakan persoalan ini dengan pihak PT BRI KC Timika untuk segera mengadakan mesin tersebut agar pembelian pupuk subsidi dapat dilakukan dengan menggunakan kartu tani.

Pasalnya, bilamana pembelian terus dilakukan dengan manual, maka penyaluran pupuk subsidi ini bisa saja tidak tepat sasaran dan hal-hal yang tidak diinginkan seperti manipulasi data pun rawan terjadi.

Beritamimika pun sudah mencoba menghubungi pihak PT BRI KC Timika untuk konfirmasi, namun belum juga direspon sampai berita ini dinaikkan.

Persediaan Pupuk Subsidi di Mimika Tahun 2023

Sebagai informasi, Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan dalam tahun ini menyediakan 2 jenis pupuk subsidi untuk 9 komoditas.

"Untuk pupuk NPK itu 500 ton, Urea itu 1.200 sekian ton. Jadi itu untuk 9 komoditi, yakni untuk Bidang Tanaman Pangan itu padi jagung kedelai, Bidang Holtikultura itu cabai, bawang putih, bawang merah, dan untuk Perkebunan itu tebu, kopi, dan, kakao," papar Alice.

Jumlah bantuan ini tentunya lebih sedikit dari bantuan pupuk subsidi di tahun 2021/2022 yang mana saat itu terdapat 6 macam pupuk untuk 70 aneka komoditi.

Kendati demikian, Alice mengatakan bahwa mereka tidak tinggal diam dengan kekurangan itu. Pihaknya telah menyiasati kekurangan tersebut dengan melakukan pelatihan pembuatan pupuk organik sejak tahun lalu.

"Jadi mulai dibiasakan dari alam kembali ke alam. Tahun lalu sudah pelatihan untuk 6 distrik yang tersebar di Kabupaten Mimika agar bisa membuat pupuk organik dari bahan-bahan alami. Jadi, semua sudah pada tahu sehingga masing-masing dapat membuatnya sendiri," jelasnya.

Di samping itu, Alice mengungkapkan bahwa selain kedua jenis pupuk tersebut, adapun pupuk lainnya yang bersumber dari APBD.

"Ada juga pengadaan dari APBD, kami juga siapkan ada pupuk kimia, organik, organik kompos, padat, cair semua sudah ada," katanya.

Disampaikan bahwa pembelian pupuk dapat dilakukan dengan mendatangi kios-kios pengecer resmi. Pastinya harga pupuk ini akan jauh lebih murah ketimbang harga di toko-toko biasa.

"Jadi yang tadinya kita beli di luar harga Rp1 juta lebih, mungkin di situ (pengecer resmi) bisa Rp800 ribu sampai Rp1 juta. Lebih murah karena subsidi," pungkasnya. (Endy Langobelen)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top