Sejarah Perubahan Nama Kamoro Menjadi Mimika Wee Diawali Dengan Prosesi Perarakan Salib

Prosesi Perarakan Salib pada Sabtu (23/4/2022) di Kokonao diikuti ribuan masyarakat Mimika Wee dan anak cucu perintis
MIMIKA, BM
Sebelum memasuki acara puncak pelaksanaan Ibadah Rekonsiliasi dan Penancapan Salib, Minggu (24/4) hari ini, pada Sabtu (23/4) siang kemarin, diadakan prosesi perarakan salib.
Prosesi perarakan Salib dilakukan mulai dari kompleks misi Kampung Apuri menuju tempat penancapan Salib di Kampung Atapo.
Momen ini dilakukan dengan iring-iringan tifa dan tari-tarian yang diikuti oleh ribuan masyarakat Mimika Wee termasuk anak cucu perintis.
Wakil Bupati Mimika Johanes Rettob selaku anak cucu perintis didampingi Ny Susi Herawati Rettob turut hadir dalam prosesi ini.
Administrator Diosesan Keuskupan Timika, Pastor Marthen Kuayo menyampaikan, bahwa rekonsiliasi dalam Gereja Katolik merupakan sakramen pertobatan, pengakuan dosa dan pemulihan manusia dalam hidup.
"Sekarang ini mau dipulihkan dalam hidup karena ada yang bikin dosa atau kesalahan bahkan kutukan yang mengganggu hidup masyarakat Mimika Wee. Dan di dalam Yesus semua mau dipulihkan," ungkapnya.
Dikatakan Pastor bahwa dalam Gereja Katolik puncak rekonsiliasi itu ada tiga upacara, pertama, ritual pengakuan pertobatan atas segala hal yang mengikat atau mempengaruhi Mimika Wee, bahkan bagi mereka yang pernah tinggal di Mimika.
"Kemudian kedua itu upacara liturgi sabda dan yang ketiga itu perayaan ekaristi serta penanaman salib. Saya berharap dengan rekonsiliasi ini ada kehidupan baru dan tidak ada beban bagi masyarakat Mimika Wee,"kata Pastor.
Terkait perubahan nama dari Kamoro ke Mimika Wee, kata Pastor hal ini merupakan rana para tetua adat dan masyarakat.
Sementara di tempat yang sama, Ketua Panitia, Dominikus Mitoro menyampaikan bahwa perubahan nama dari Kamoro ke Mimika Wee telah menjadi wacana dan keinginan warga sejak lama.
"Kami berfikir selama nama ini (Kamoro-red), kita tetap tinggal di tempat, tidak bergerak kemana-mana. Dalam hal apa saja, baik itu di pembangunan, jabatan pemerintahan sampai gereja. Bahkan anak-anak kita tidak ada yang pergi sekolah sebagai pastor dan sebagainya," ungkapnya.
Menurutnya, nama Kamoro mulai ada sejak tahun 1996 pada saat musyawarah adat. Namun saat itu ada beberapa orang yang tidak setuju menggunakan nama tersebut. Namun karena merupakan keputusan sehingga digunakan nama Kamoro.
"Penggunaan nama ini terkait erat dengan gelontoran dana satu persen PT Freeport Indonesia. Padahal sebutan Mimika Wee itu sejak Portugis datang. Mereka masuk lewat kali dan bertanya nama kali ini dari mana, yang kemudian diberitahu oleh orangtua namanya 'Mimika', ungkapnya.
"Sehingga mereka katakan kalau dari timur sampai barat itu orang Mimika. Dan ini diingat sebutan Mimika Wee yang menggambarkan pola hidup masyarakat yang menempati daerah pesisir. Perlu diingat juga bahwa orang-orang Mimika itu tidak buat kampung di tengah hutan, tapi selalu di pinggir sungai karena orang Mimika itu hidupnya dengan filosofi 3S (sungai, sampan dan sagu)," jelas Mitoro.
Wens Mitoro mengatakan, dengan demikian maka puncak acara hari ini (Minggu-red) merupakan kegembiraan masyarakat yang sudah lama menantikan perubahan nama dari Kamoro ke Mimika Wee.
"Harapan saya dengan pergantian nama ini kita kembali ke awal, sehingga moyang, leluhur dan alam akan mendukung kita dan Tuhan mendukung kita supaya ke depan itu anak cucu kita semakin maju dan berkembang jadi lebih baik," harapnya. (Ignas)



