Cerita Atlet Kembar Panjat Tebing Papua Dilatih Tanta Mereka, Emi Zainah Peraih Perunggu PON Riau

Rafianto dan Rafiandi bersama tanta mereka, Emi Zainah saat berlatih di Venue Panjat Tebing SP 2

MIMIKA, BM

Dari sekian atlet yang dimiliki oleh Kontingen Papua pada perhelatan PON XX, terdapat atlet kembar bernama Rafianto Ramadhan dan Rafiandi Ramadhan yang merupakan atlet Panjat Tebing.

Mereka berdua lahir di Jakarta, 26 November 2002 dengan jarak lahir lima menit.

Buah kasih dari pasangan Ayah Rahmad Setiadi dan Ibu Hera Kurniawati ini akan berlaga di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua di Mimika.

Menariknya, atlet kembar ini sedari kecil memang sudah memiliki ketertarikan akan dunia panjat tebing, dan itu tidak lepas dari peran tante mereka yang juga merupakan atlet nasional bernama Emi Zainah.

Emi Zainah merupakan atlet panjat tebing yang pernah menorehkan sejarah sebagai peroleh medali perunggu dalam even PON yang di selenggarakan di Riau pada 2012 silam.

Kepada BeritaMmika Selasa (21/9), Emi Zainah mengungkapkan perjalanannya sebelum ia dipercaya menjadi pelatih panjat tebing Papua.

“Pengalaman saya sebagai atlet dimulai dari 1992. Saya ikut Kejurnas pertama di Sumatera Barat dimana DKI Jakarta keluar sebagai juara umum. Kalau dulu bukan per medali tetapi total tim,” katanya.

Lanjutnya, pada tahun 1996 cabor panjat tebing baru ekspedisi dan belum masuk mata lomba. Kemudian tahun 2000 panjat tebing dimasukan sebagai salah satu mata lomba olahraga PON.

“Di Surabaya saya dapat medali emas di lead. 2012 adalah masa terakhir saya menjadi atlet saat itu ikut PON di Riau, saya dapat medali perunggu,” kenangnya.

Setelah itu, ia kemudian dipercaya menjadi pelatih untuk panjat tebing junior.

Pada 2018 Emi Zainah dipercaya menjadi pelatih panjat tebing untuk Provinsi Papua oleh Ketua Harian Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Provinsi Papua, Mohamad A. Hasan.

“Dari sisi tante, saya merasa bangga dan punya harapan lebih untuk Rafianto dan Rafiandi. Tugas kita berusaha yang terbaik karena menang kalah itu sudah ada yang mengatur,” pesannya.

Meskipun ia adalah tante dari si kembar Rafianto dan Rafiandi Ramadhan, namun dalam melatih ia dituntut untuk tetap profesional.

“Saya tetap optimis mereka bisa bersaing di PON XX Papua ini,” ujarnya menyemangati.

Ia merasa sangat dekat dengan kedua keponakannya itu. Emi Zainah merupakan inspirasi yang membuat si kembar mencintai cabang olahraga ini.

Ketika Emi bertanding, si kembar sedari kecil sudah sering diajak. Dari yang awalnya coba-coba mereka langsung tertarik hingga menjadi seorang atlet.

Kepada BeritaMimika, Rafianto dan Rafiandi juga mengisahkan bagaimana mereka terjun di dunia panjat tebing hingga tergabung sebagai atlet Panjat Tebing Provinsi Papua.

Ia mengatakan di tingkat Kejuaraan Nasional Junior di Bali ada sebuah even nasional digelar dan diikut oleh 10 provinsi dari seluruh Indonesia. Rafianto dan Rafiandi saat itu mewakili DKI Jakarta.

“Saya mengikuti tiga kategori combine dapat medali perak, kalau emas dan perunggu saat itu diperoleh Jawa Timur. Di speed dapat peringkat empat,” kata Rafianto.

Sementara, Rafiandi Ramadhan mengikuti tiga kategori. Pada nomor lead ia berhasil meraih medali emas meskipun pada speed harus mengaku kalah di 16 besar.

“Pertama kali ngebela Jakarta itu 2012 tapi akhirnya kontrak kami tidak diperpanjang. Karena tidak diperpanjang, bang Hasan (Ketua FPTI Papua-red) mengajak kami bergabung ke Papua,” kisahnya.

Rafianto mengatakan, sejak 2019 bersama saudara kembarnya mereka mulai dipercaya membela Provinsi Papua. Dari situlah mereka berhasil menciptakan prestasi demi prestasi.

“2019 di Kejurnas Kalimantan Selatan tingkat junior ada empat kategori combine, bolder, speed dan lead disitu saya dapat tiga emas dan satu perak. Dari Papua ada lima atlet yang ikut, alhamdulilah dari 20 provinsi yang ikut, Papua masuk tiga besar,” ucapnya.

Tidak berhenti disitu, prestasi kembali mereka raih pada ajang lomba di Bandung pada giat yang diselenggarakan oleh infantri TNI untuk kategori speed dan lead.

Rafianto berhasil membawa pulang emas di kelas speed sementara Rafiandi peroleh emas untuk kelas lead. Papua pun berhasil keluar sebagai juara umum untuk kategori kelas umum.

“2019 kami ikut lomba ajang nasional di Semarang Open. Ada dua kategori, di lead saya dapat perunggu. Karena ada kesalahan dari tim manajerial Papua, saat itu seharusnya kita masuk semi final di lead perorangan dan seharusnya dapat peringkat satu namun karena ada perubahan jadwal tidak diinfokan jadi di diskualifikasi karena terlambat datang,” ujarnya sedikit kecewa.

Kini diusia 18 tahun yang terbilang masih muda mereka berdua dihadapkan oleh PON XX Papua.

“Ini pertama kali kami ikut PON. Dukungan orang tua 100 persen. Harapan saya insya Allah bisa menampilkan yang terbaik untuk Papua, istilahnya kalau menang atau kalah sudah ada yang atur. Kita tidak ada memandang siapa lawan kita tetapi tetap percaya diri dan optimis. Kami dan lainnya akan berjuang, semoga mendapat hasil yang terbaik. Kami semua terus bersemangat dan selalu optimis,” ungkapnya. (Elfrida)

Top