Belajar Dari Pemda Banyumas, Pemda Mimika Akan Lakukan Ini Untuk Tangani Sampah

Plh. Kepala DLH Mimika Jefri Deda

MIMIKA, BM 

Pemerintah daerah (pemda) Kabupaten Mimika pada Senin (8/5/2023) melaksanakan kunjungan studi banding ke Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah guna meninjau secara langsung pengelolaan sampah disana.

Mengapa Mimika melakukan studi ke negeri yang dikenal juga dengan tempe mendoan ini? Karena Banyumas merupakan satu kabupaten di Indonesia yang telah berhasil menyelesaikan permasalahan sampah didaerahnya hingga nol sampah dan bahkan hampir tidak memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Studi banding ini harus dilakukan karena sampah merupakan problem klasik di negeri ini.   Bahkan jumlah sampah yang dihasilkan oleh Kabupaten Mimika capai 200-an ton per hari dimana 80 persennya merupakan sampah plastik.

Demikian diungkapkan Plh. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mimika Jefri Deda saat ditemui BeritaMimika, Senin (15/5/2023) di ruang kerjanya,

Deda menjelaskan, Kabupaten Banyumas adalah daerah nol persen sampah dan hampir tanpa TPA dikarenakan semua dikelola secara mekanik dan swadaya.

“Sampah bukan lagi menjadi masalah tetapi berkat bagi mereka yang dimulai dari kelompok swadaya masyarakat (KSM), mereka mengumpulkan sampah untuk dipilah di rumah tangga lalu dijual ke KSM, kemudian diolah ke tempat pengolahan Pusat Daur Ulang (PDU),” ungkapnya.

Di PDU inilah ia menjelaskan sampah dapat diolah menjadi tiga bagian yakni pertama menjadi pupuk. Pupuk kemudian dijual kembali ke DLH untuk perawatan tanaman di sepanjang jalan dan kepada petani.

Kedua, sampah plastik dapat diolah sebagai pengganti batu bara. Sampah plastik dipotong kecil, dikeringkan, dibakar dan dicetak menjadi batu paving block dan genteng, kemudian bisa dijual ke perusahaan menjadi bahan bakar pengganti batu bara.

Ketiga, sampah makanan sisa diubah menjadi maggot yang bermanfaat untuk dijual ke peternak ayam dan lele sebagai pengganti pakan.

“Semua sampah bisa berguna dan menjadi uang. Ini merupakan komitmen Plt. Bupati Mimika Johannes Rettob karena banyak sekali sampah yang dibuang di Mimika. Ia merasa bertanggung jawab agar masyarakat di Iwaka tidak terdampak pembuangan sampah dari kota,” jelasnya.

Jefri mengatakan tentu saja harus ada yang membeli hasil dari pengolahan sampah tersebut, dan pemda Mimika dikatakan telah menjalin komunikasi dengan PT. Freeport Indonesia (PTFI) untuk membeli sebagai bahan pengganti batu bara.

“Sampah dipilah melalui mesin untuk kita jual ke PTFI sebagai pengganti batu bara dan ini sudah ada pembicaraan dan mereka setuju membeli hasil masyarakat," ujarnya.

"Sebagai langkah awal kami akan bangun PDU, kami akan meyerahkan kebijakan ini ke kamar dagang Indonesia (KADIN) Mimika untuk menggerakan umkm-umkm yang ada tentang bagaimana mengelola sampah di tingkat kelurahan,” paparnya.

Tidak tanggung-tanggung pemda Mimika ke depan akan membangun empat unit PDU agar sampah di Mimika dapat teratasi seperti halnya Banyumas.

“Kita berencana tahun 2024 dibangun empat PDU di setiap kelurahan yakni pertama di SP2 untuk menangani di sekitar SP2 SP3. Kedua, antara jalan baru Petrosea untuk mengatasi di Timika Indah, jalan Perintis, Otomona dan Inauga. Ketiga di arah ke SP1, Nawaripi, SP4 dan pasar sentral. Tahun ini (2023-red) kami bangun PDU di belakang kantor lama dengan dua mesin,” tutur Jefri.

Ia menambahkan pembangunan PDU tahun ini telah dilelang bersama dengan pengadaan dua mesin yakni  mesin conveyor pemilah sampah dan mesin hot extruder.

“Dengan ini APBD kita bisa kurangi dan kita kelola bagaimana memberikan subsidi ke masyarakat. Kalau sudah berjalan dan kita berhasil tangani dua kelurahan berarti yang lain bisa ditangani sampah," ungkapnya.

"Kalau kita sudah bangun empat PDU dan berjalan dengan baik maka Kementerian PUPR bisa memberikan kita dana DAK untuk kita bangun PDU yang terbesar di Iwaka,” terangnya.

Jefri juga menegaskan agar pihak distrik, lurah dan para ketua RT melaksanakan tugas dan fungsi sebagaimanamestinya dalam hal penanganan sampah di wilayah kerjanya.

"Setiap hari armada kami dengan 180 pekerja mobile di dalam kota mulai pukul 05.00 Wit. Sampah berserakan di mana-mana, bahkan depan jalan umum. Ketika kami bersihkan, 10 menit kemudian sampah kembali ada di tempat semula," ungkapnya.

"Ini juga faktor kesadaran masyarakat namun hal ini juga seharusnya jadi perhatian lurah dan RT, termasuk pengawasan Satpol PP tentang Perda sampah. Ini tidak jalan, kalau jalan maka harus ada efek jera buat masyarakat yang buang sampah tidak sesuai aturan perda," tegasnya.

Kunjungan ke Banyumas tahap pertama ini dilakukan bersama Plt. Bupati Mimika Johannes Rettob yang kemudian akan dilanjutkan dengan kunjungan kedua bersama perwakilan kelurahan dan tiga distrik di Mimika yakni Wania, Mimika Baru dan Iwaka. (Elfrida Sijabat)

 

 

 

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Aksi Penghijauan di Grasberg Awali Rangkaian Peringatan Hari

Ekonomi dan Pembangunan 2024-05-17 13:37:53

Ratusan TKBM Pomako Mogok Kerja, Ini Penyebabnya

Ekonomi dan Pembangunan 2024-05-10 10:51:52

Jelang Idul Adha, Kepala Balai Himbau Pelaku Usaha Laporkan Ini ke

Ekonomi dan Pembangunan 2024-05-07 04:46:06

Disperindag Sebut Wahana Pasar Malam Ilegal

Ekonomi dan Pembangunan 2024-04-23 05:15:00

Freeport Bina Pengusaha Muda Papua melalui Papuan Bridge Program

Ekonomi dan Pembangunan 2024-04-19 11:50:46

Top